HARAPAN ITU PASTI

Selasa, 03 Desember 2013

Baamang Lautan API Part II

SAMPIT- Kebakaran di Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, yang terjadi akhir pekan lalu diperkirakan mencapai Rp 15 miliar. Berdasarkan data dari Kecamatan Baamang kemarin (1/12), bangunan yang terbakar adalah 59  rumah, 18 barak, sembilan ruko, dan lima warung. Terdapat 102 kepala keluarga atau 292 jiwa yang terancam tidak memiliki tempat tinggal.
Kerugian akibat kebakaran di RT 1, RT 2, dan RT 3 Kelurahan Baamang Tengah, ini diprediksikan lebih besar dibanding kebakaran besar di Baamang Hilir pada 28 November 2012 silam. Sebab, banyak ruko maupun bangunan rumah permanen yang luluk lantak dalam kejadian kemarin.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotim Sanggul Lumban Gaol memprediksi kerugian mencapai Rp 15 miliar karena sebagian besar rumah di kawasan itu merupakan bangunan permanen. Selain itu, banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan harta bendanya, baik itu peralatan rumah tangga, kendaraan, dan barang dagangan di toko.
Lebih lanjutSanggol mengatakan, Pemkab Kotim telah menetapkan masa tanggap darurat selama 12 hari. “Kita sudah canangkan tanggap darurat sesuai dengan surat keputusan (SK) bupati sampai 12 hari ke depan. Nanti akan kita lihat situasi dan kondisi, kalau kondisinya membutuhkan akan kita perpanjang,” ungkapnya saat ditemui di lokasi kebakaran, kemarin (1/12).
Pemerintah daerah juga telah mendirikan dapur umum di sekitar lokasi kebakaran, yaitu di Jalan Baamang I depan Hotel Asoka. Posko bantuan juga didirikan tidak jauh dari dapur umum.
Ditambahkan Sanggol, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotim telah melakukan rapat di Kantor Kecamatan Baamang. Hasilnya, ketua RT diminta untuk melakukan validasi dan mendata surat-surat penting  yang hilang untuk dilaporkan ke Polsek Baamang. “Nanti akan kita bantu untuk pembuatan surat tersebut. Seperti kartu tanda penduduk (KTP) yang terbakar, warga bisa laporkan ke ketua RT kemudian lapor ke kecamatan,” ujarnya.
Saat ini, korban membutuhkan pasokan makanan. Oleh karena itu, Sanggol minta agar stok beras di gudang sekitar lima ton segera diturunkan hari ini.
Pascakebakaran, lokasi kebakaran gelap gulita saat malam  hari. Selain itu, pasokan air dari PDAM Dharma Tirta juga belum mengalir. Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana berupaya berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memenuhi kebutuhan listrik dan air.
“Listrik sudah diperbaiki sedangkan untuk air kita usahakan hari ini sudah bisa. Kemungkinan besok sudah bisa semua, kalau untuk kebutuhan air minum kita langsung suplai,” tandasnya kemarin.
Terpisah, Ketua RT 2 Kelurahan Baamang Hilir Kecamatan Baamang M Nasih mengungkapkan, sebagian besar korban kebakaran yang berada di wilayahnya banyak yang mengungsi di rumah sanak saudaranya. Sedangkan bantuan sendiri belum didapatkan karena menunggu pendataan.
“Sore ini mungkin baru diserahkan, ini kami disuruh untuk mencari gerobak dulu. Sedangkan untuk makanan ada yang mengambil di dapur umum atau numpang di tempat keluarga terlebih dahulu,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan Radar Sampit, sebagian warga sudah mulai menempati tenda-tenda yang disediakan pemerintah daerah. Sehari sebelumnya, warga masih enggan menempati tenda penampungan dan lebih memilih mengungsi di tempat kerabatnya.
"Kemarin kita nginap di tempat keluarga dulu karena areal kebakaran masih penuh asap,” kata Ahmad, Ahmad (61) warga Gang Remako Jalan Baamang 1.
Sehari pascakebakaran, dia lebih memilih untuk tinggal di penampungan daripada menumpang di tempat warga lain. “Tidak enak numpang di tempat orang lain, mendingan sama-sama dengan tetangga yang jadi korban kebakaran," ungkapnya.
Jubaidah, ketua dapur umum, menyatakan bantuan terus berdatangan dari banyak pihak. Untuk menjaga asupan makanan warga yang tertimpa musibah, pihaknya akan menjamin kebutuhan gizi warga dengan menyediakan makanan tiga kali sehari.
Polisi Olah TKP
Jainal, salah satu warga Baamang mengatakan, awal kejadian munculnya api memang dari warung Acil Aluh, istri dari Amang Muin, yang saat itu sedang memasak. Diduga pemilik kelupaan, sehingga kompor dengan bahan bakar minyak tanah meledak. Api membakar warungnya dan kemudian menjalar ke rumah lainnya.
Untuk memastikan penyebab kebakaran, jajaran kepolisian kemarin (1/12) juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). “Saat ini kita masih melakukan penyedilan dan sudah dilakukan olah TKP dari tim identifikasi Polres Kotim, untuk mengetahui asal usul api tersebut,” kata Kapolres Kotim AKBP Himawan Bayu Aji saat meninjau lokasi kebakaran didampingi beberapa perwira Polres Kotim.
Menurutnya, api diduga berasal dari rumah pasangan Muin dan Galuh. Berbagai kemungkinan penyebab api bisa saja terjadi. Misalnya akibat kompor, konsleting listrik, atau ada hal-hal lain yang menjadi penyabab kebakaran. Semuanya akan segera diketahui setelah para saksi diperiska untuk memastikan penyebab kebakaran itu.
Apakah akan ada yang ditetapkan sebagai tersangka? Himawan tidak mau berandai-andai. ”Akan kita selidiki dulu, apakah ada unsur kesengajaan atau bagaimana,” tukasnya.
Saat ini pihakanya masih akan mengerahkan personelnya untuk lakukan pengamanan di lokasi kebakaran untuk mengatisipasi hal-hal yang tidak diiinginkan. “Kita akan berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah, Kecamatan, Kodim, Koramil dan Polsek setempat untuk terus lakukan pengaman di lokasi kebakaran ini,” pungkasnya.  (oes/tha/co)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar